Latah

Mungkin hanya Jerman dan Spanyol yang masih menyisakan tontonan bola yang menghibur. Karena kemenangan di lapangan itu menjadi lebih penting, dapat melanggengkan jalan ke final, meningkatkan peringkat, menambah kas, meningkatkan harga transfer pemain, maka tujuan hampir semua tim adalah bagaimana caranya unggul sampai wasit menyatakan permainan selesai. Hiburan sudah jauh berkurang, bola sudah sampai di daerah musuh dikembalikan lagi ke kiper, pemain kurang konsentrasi dan emosional, aliran bola semrawut. Kadang pemain perlu mengingatkan wasit karena rupanya si pemain tegang, sudah lelah mempertahankan keunggulan. Penangguhan penggunaan teknologi juga kena batunya. Keberisikan alat tiup lumayan mengurangi kenyamanan tontonan.
Penyelenggaran berhasil, karena seluruh pertandingan sudah dianggap sah, Juara Dunia baru sudah dimunculkan. Tetapi apakah cukup begitu saja ? Tentunya para penggila menginginkan ada cerita yang asyik dan panjang untuk diperdebatkan. Kalau hanya man of the match, tim ideal dunia berbagai versi, prediksi pertandingan, pemain dengan level tinggi klub Eropa tak cukup untuk untuk memenuhi keinginan itu. Pantas kalau Piala Dunia kali ini salah satu yang tidak mengesankan.
Bahwa tim tim ideal berbagai versi, lintas generasi dan negara adalah asyik asyik saja dilakukan banyak pihak. Bahwa pilihan komposisi tim adalah karena pemainya istimewa di bidang ini dan itu sah sah saja. Maka saya yang merasa masih menggilai bola juga ingin seperti mereka yang pasang pemain dan pola.
Agak berbeda dengan yang lain, karena tim "besutan " saya sudah membuktikan ke "juara " anya, tidak ada lintas generasi dan negara. Tim I adalah Belanda, Juara Eropa 1988. Tim II adalah Jerman Barat, Juara Eropa 1980. Tim I sudah membuktikan praktek sepak bola sangat positif, siapapun anda, jika anda pemain, anda bergairah terlibat dan maksimal di setiap keadaan, menyerang atau diserang. . Tim I hebat mendapat lawan yang sebenarnya lebih hebat, Uni Sovyet. Butuh skill, kecerdasan, mental dan fisik super untuk mempraktekan "kelakuan "Tim I ini. Mungkin tim ini cocok sebagai referensi kesebelasan bola dan dibandingkan dengan tim tim juara yang lain.
Tim II, Jerman Barat, di final menghadapi tim dengan generasi terbaiknya Belgia. Malam itu saya tonton sendirian lewat TV, begadang, padahal paginya saya akan dikhitan. Saya belum mengerti betul saat itu. Tetapi saya melihat Jerman Barat bermain bola seperti kompetisi lokal mereka yang menarik. Beruntung saya melihat manusia yang termaksimal pertandingan itu, Bernd Schuster. Maksimal karena membuat permainan tim menjadi hal yang sangat disesalkan kalau tak juara.

No Regret

Sihir dunia itu bernama sepak bola, dan dengan kesadaran atau tanpa, manusia menyediakan waktu dan harta lainya untuknya. Permainan yang sungguh memerlukan keberuntungan. Sebelas orang dipilih menjalankan muslihat tertentu untuk mengupayakan sebanyak mungkin keberuntungan dan sedikit mungkin kesialan. Pelaku sepak bola yang paling banyak menguntungkan akan lebih beruntung, angka angka upahnya akan naik, menjadi pesohor dengan penempatan kelas sosial yang dihormati, atau perlakuan-perlakuan istimewa lain.

Sihir di lapangan rupanya mulai berkurang. Tujuan sepak bola sekarang lebih mementingkan hasil. Sihir itu ada yang terambil keluar dari permainan di lapangan. Tak ada yang mengesankan setelah para juara turnamen mengangkat piala. Tak muncul tokoh tokoh yang layak menginspirasi permainan ini selanjutnya. Mereka seperti tidak bermain bebas, terkungkung oleh tuntutan hasil. Permainan ini padahal sempat melahirkan seniman seniman yang menjadi inti sihir. Sekarang kita bisa melihat sihir itu terambil untuk hiburan di luar lapangan, kuiz, bursa transfer, skandal, prediksi, tim impian ( tim berandai andai ), pesohor yang mendadak hobi bola, taruhan, musik, kontroversi keputusan wasit dan penggunaan teknologi, perang mental lewat pers, kharakteristik bola, ramalan gurita.

Sihir di dunia masih mempunyai tempat tempat dan nama nama yang lain. Yaitu selama tempat dan nama itu mampu membuat manusia rela menyisihkan waktu dan hartanya yang lain. Sayangnya sihir itu lebih sering melalaikan tanggung jawab manusia terhadap Rabbnya. Jadi sekarang tak ada yang perlu disesali dengan aneka pergerakan sihir itu.

Alasan Balas Cinta



Ketika amalan amalan defisit, tekor, tak sanggup menutup dosa dosa. Allah memaksakan kesedihan di hati. Kesedihan karena kehilangan sisi duniawi kita adalah sasaraNYA. Penyegeraan hukuman ini untuk kebaikan walau terasa sangat menyakitkan. Tapi sakit di dunia tentu tak ada apa apanya dibanding sakit di akhirat. Ini bentuk transaksi mahal karena penghapusan dosa ditukar hanya dengan kesedihan.
Saat terhimpit kesedihan, Allah yang mendekat, hingga kita baru tersadar sempat terjauhkan dariNYA. Bersyukur karena diberi kecintaan berupa kesempatan menakar kesabaran menghadapi kesedihan. Adakah alasan untuk tidak membalas cintaNYA ?